Waktu libur lebaran kemarin, jujur saya benar-benar merasakan yang namanya libur. Bukan Cuma karena bebas dari pekerjaan yang menuntut otak sampai kadang urat kemaluan, tapi karena jalanan yang setiap harinya penuh “semut” yang mengular. Rasanya itu seperti kembali di tahun 70-an tanpa layar hitam putih.

uniknya-gaya-berkendara-orang-indonesia-oleh-segiempatSaya dan Anda semua mungkin cukup sadar kalau kemacetan adalah salah satu hal yang tidak dapat terhindarkan. Alasannya sih beragam mulai dari fasilitas angkutan umum yang tidak memadai jadinya orang lebih nyaman memakai kendaraan pribadi, sampai karena gengsi. Tapi kalau mau di bandingkan sebenarnya sih alasan kedua yang paling banyak dijadikan alasan. Biar bisa dibilang gak ketinggalan jaman.

Karena itulah jalanan yang setiap hari kita lalui penuh dengan kendaraan, tidak sebanding dengan ketersediaan jalan karena sudah habis dibanguni ruko, mall ataupun perkantoran. Jadinya makin macet kan? Dan itu semua pun diperparah dengan “budaya jalanan” yang dipegang teguh oleh mayortas orang Indonesia yang memang punya keunikan tersendiri.

Nah, sadar atau tidak begini uniknya gaya berkendara orang Indonesia.

Idealisme Pengendara Sepeda Motor

Sebenarnya semua pengendara motor itu tahu kalau rambu-rambu lalulintas adalah aturan yang wajib untuk dipatuhi, kalau enggak maka pak Polisi pun akan dengan senang hati memberikan bon berwarna pink.

Tapi karena selalu memposisikan diri sebagai “orang kecil” yang sedang berusaha menafkahi keluarga dengan segala perjuangannya menerobos hujan, kemacetan, cuaca panas, debu dan asap kendaraan maka mereka selalu meminta untuk “dimaklumi”.

Jadi karena itu gaya berkendara pemotor pun bakal dan selalu seperti ini:

Pertama, pengendara motor itu tidak harus patuh dengan rambu-rambu lalu lintas, karena namanya orang kecil lagi nyari nafkah semua rambu lalu lintas kalau dilanggar itu orang bakal memaklumi. Jadi sah-sah saja untuk melanggarnya atau bahkan harus melawan arah demi menghemat bahan bakar dan waktu.

Kedua, jadi pengendara motor itu harus berani, karena pengendara motor itu punya 9 nyawa. Dimana-mana entah itu bersenggolan sampai ditabrak sekalipun (meski nyawa melayang) kendaraan yang lebih besar itu selalu salah. Jadi jangan takut kalau disenggol mobil truk karena melawan arah lantas kepala nyagkut ditengah ban belakang, karena kalau supirnya gak ditangkap dang anti rugi, ajal si supir bakal dijemput oleh pengendara motor lain dan warga sekitar. Jadinya bakal ketemu lagi di alam baka.

Ketiga, jadi pengendara motor itu harus bisa memanfaatkan celah sekecil apapun. Kalau di depan ada mobil ingin menyeberang dan memberikan lampu sein untuk berbelok, pemotor masih punya kesempatan sepersekian detik untuk lebih dulu menyeberang, menghalangi, memotong atau melaju lebih dulu. Kalau pun motor harus tersangkut di bemper depan dan tubuh masuk di kolong mobil, itu sudah risiko dan pasti pengendara mobil yang dituntut ganti rugi. Kalau tidak, maka dia akan senasib dengan supir truk.

Keempat, jangankan rambu lalu lintas, traffic light seperti di persimpangan itu bukan penghalang bagi pengendara motor. Kalau hijau jalan terus, lampu sudah kuning (bukannya merem) memutar gas lebih banyak biar lebih kencang dan kalau sudah merah jangan injak rem yang penting lihat kiri kanan (ada atau tidak ada kesempatan) terus melaju. Tidak ada istilah berhenti, kalau orang di depan berhenti maka bunyikan klakson sekencang mungkin karena motor yang kecil mau lewat.

Kelima, pemotor itu rajanya jalanan. Trotoar di pinggir jalan itu jalan tambahan bukan untuk pedagang kaki lima apalagi pejalan kaki. Kalau ada pejalan kaki yang melintas, bunyikan klakson sekencang-kencangnya lalu pelototi. Kalau perlu maki sampai tending karena pemotor mau lewat.

Nah, yang paling unik kalau ada orang yang tidak setuju dengan idealisme seperti itu berarti dia orang yang sombong, tidak mau menghargai orang lain, tidak pro rakyat kecil, antek aseng dan member 9 naga.

uniknya-gaya-berkendara-orang-indonesia-oleh-segiempatIdealisme Pengendara Mobil

Kalau Anda berpikir pengendara motor di tanah air sangat parah, jangan dikira pengendara mobil di Indonesia, entah itu mobil pribadi, angkot, bus sampai truk sekalipun lebih baik. Karena faktanya pengendara mobil di Indonesia pun tidak kalah “hebatnya”.

Idealisme yang paling umum dari pengendara mobil, karena ukuran lebih besar maka jalanan adalah miliknya. Pengendara yang lain tidak punya hak untuk protes, pokoknya yang lain mah bodo amat. Kalau ada yang ketabrak terus mati, itu salahnya Jokowi.

Well karena idealisme seperti itulah, pengendara mobil di jalanan pun bakal ngelakuin yang kayak gini:

Pertama, pengendara mobil bebas melaju di jalur mana pun asal tidak berlawanan arah, jadi meski berada di jalur kanan dengan kecepatan 20- sampai 30km perjam itu bukan larangan. Gak peduli itu di tol atau jalan protocol.

Kedua, kalau emang ada yang pengen mendahului dengan mengklakson, memberikan isyarat lampu gak perlu minggir. Biarkan dia sendiri yang cari jalur untuk melambung. Kalau dia klakson terus dan kencang, biarin dia ngelambung tapi buka kaca terus ajak berhenti. Pas berhenti, marahin dia kalau perlu ajak berantem. Kalau dia gak mau berhenti tabrak aja toh dia yang udah bikin emosi.

Ketiga, bahu jalan adalah jalur tambahan bukan untuk keadaan darurat apalagi untuk orang jualan. Jadi sah-sah saja kalau ingin mendahului lewat jalur itu.

Keempat, kalau mau belok gak perlu liat spion cukup kasih isyarat lampu sein (tapi kadang ada juga yang gak nyalakan) kendaraan lain harus ngasih jalan. Karena kalau kita sudah nyalakan lampu sein itu artinya kita mau belok dan orang lain gak peduli ada di samping atau gak pokoknya harus minggir. Kalau marah plototin kalau perlu maki dengan bilang “mata lo kemana gak liat gua udah nyalain lampu sein”. Gak peduli belok kanan tapi sein kiri yang penting lampu sein nyala.

Kelima, kalau macet karena ukuran besar mobil bebas mengambil semua jalur berkendara, tidak peduli itu berlawanan arah atau tidak.

Well, seperti itulah uniknya gaya berkendara para saudara kita, demi kepentingan seluruh umat kita harus setuju dan mengimaninya. Kalau tidak berarti antek aseng yang mau menguasai Indonesia dan menyingkirkan rakyat kecil.

* * * * *
Buku Formula Cinta

LEAVE A REPLY