Minggu 13 Mei 2018, pagi itu tidak ada satu orangpun yang merasa aneh. Semuanya berjalan normal dan lancar tapi saat matahari pagi masih memberikan sinarnya yang sehat, sebuah kabar datang dari Surabaya. Tiga gereja yang berbeda diserang bom bonuh diri dan hasilnya 7 jemaat gereja dan 6 pelaku tewas.

Mungkin kita semua sama seperti ke 7 orang korban, yang tidak tahu menahu akan adanya serangan. Apalagi kita masih terdistraksi dengan adanya aksi-aksi kekerasaan, penganiayaan, pembunuhan dan penyanderaan dari para “seprofesi” pelaku bom bunuh diri di Mako Brimob. Namun disaat hingar bingar sosial media yang terus memberikan dukungan kepada keluarga korban, serangan kembali terjadi.

Dita Oepriarti, Puji Kuswati, YF, FH, FS dan FR menjadi pelaku bom bunuh diri. Yang mirisnya lagi mereka semua adalah keluarga yang terdiri dari ayah, Ibu dan anak-anaknya. Hal itu membuat kita tidak hanya kaget tapi hati ini pun terasa miris melihat seorang ayah dan Ibu yang dititipkan anak oleh Tuhan, bukannya dirawat dan dibesarkan dengan sepantasnya, tapi malah diajak melakukan pembunuhan karena ideologi sesatnya.

Pernahkan terpikirkan pada Anda apa yang orang-orang ini pikirkan saat melakukan aksinya? Apa yang mereka pikirkan saat meakukan doktrin sesat pada anak-anaknya? Apa yang sudah mereka jalani yang membuat mereka jadi benci karena merasa benar sendiri?

Berikut 8 fakta bomber 3 gereja di Surabaya seperti dilansir dari berbagai sumber (*noted: sumber dicantumkan di bawah)

Kronologi Kejadian

Pukul 07.30 WIB, bom meledak di Gereja Santa Maria, pukul 07.45 WIB bom meledak di Gereja GKI jalan Diponegoro dan pukul 07.50 WIB bom meledak di salah satu gereja di jalan Arjono.

Ya hanya berselang beberapa menit saja keluarga ini melakukan pengeboman, dalam aksinya Dita sang ayah lebih dulu meengantarkan istri dan kedua anak perempuannya ke Gereja Kristen Indonesia di jalan Diponegoro. Setelah itu dengan mobil Avanza Dita sendiri bertugas untuk menyerang Gereja Pantekosta Pusat di Jalan Arjuno. Sedangkan kedua anak lelakinya bertugas meledakkan diri ddi Gejera Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel.

Terlihat jelas kalau koordinasi yang mereka lakukan itu sudah terencana dengan matang, bukan sekedar serangan dadakan.

Pelaku di Mata Warga

Uniknya, Dita, Puji dan bersama keempat anaknya bukanlah kalangan yang berasal dari orang tak mampu yang sudah frustasi dengan kehidupan sehingga lebih mudah terpengaruh dengan doktrin ekstrim. Tapi Dita dan Puji justru berasal dari keluarga yang mampu.

Mereka tingal di Wisma Indah, Rungkut, Surabaya yang notabene adalah kawasan elit dengan nilai jual 1,2 sampai 1,5 miliar rupiah. Bahkan warga sekitar pun mengenal Dita, istri dan anak-anaknya sebagai keluarga yang harmonis.

Menurut warga Dita selalu berkeliling sepeda dengan anak-anaknya. Namun menurut kepolisian para pelaku bomber ini memang mendoktrin anak-anaknya. Bahkan mereka tidak disekolahkan melainkan terus di doktrin dengan video-video kekerasan demi membenarkan aliran ekstrim yang mereka percayai.

Pelaku Adalah Seorang Pengusaha

Sementara dari segi profesi, Dita dan istri bukanlan seorang pasangan suami istri yang putus sekolah. Melainkan mereka adalah orang-orang yang berpendidikan karena diketahui Dita adalah seorang pengusaha minyak jintan, minyak kemiri dan minyak wijen. Yang dalam pemasarannya pun memakai taktik dan strategi. Sementara istrinya Puji adalah seorang lulusan Akademi Keperawatan.

Pertemuan Minggu

Peledakan bom bunuh diri di 3 gereja ini sudah jelas sangat terencana, bahkan keluarga bomber ini pun berkaitan dengan pelaku pengeboman di Sidoarjo. Yang mana mereka rutin melakukan pertemuan dengan dalih keagamaan di rumah Dita.

“Pengajian rutin setiap Minggu. Pengajian di situ, di (tempat) Dita itu, sering ketemu” kata Kapolda Jawa Timur Irjen Machfud Arifin.

Motif Pelaku Menurut Kapolri

Tak berlangsung lama setelah kejadian, semua motiv sampai pelaku serta jaringannya berhasil terungkap oleh kepolisian. Kaporli Jenderal Tito Karnavian pun mengatakan kalau motif pelaku adalah aksi balas dendam.

Hal itu menurut Pak Tito karena ketua JAD (Jamaan Ansharut Daulah) Wilayah Jatim berhasil diringkus oleh pihak kepolisian. Jadi mereka yang berada di bawah jaringan termasuk Dita yang ternyata ketua JAD di Surabaya, jadi bereaksi. Tapi entah kenapa, serangan yang dilakukan justru mengarah kepada orang-orang yang tak bersalah, bukannya pihak kepolisian langsung.

Pengakuan Keluarga

Baik keluarga Dita maupun Puji sangat shock dengan apa yang dilakukan keduanya. Bahkan menurut adik Dita, keluarganya pun sangat marah dengan kelakuan Dita. Apalagi dia mengajak serta keempat anaknya yang masih kecil.

“Kami sekeluarga syok, ibu dan bapak saya juga syok. Kami tak menyangka dia (Dita) melakukan itu. Otak dia ditaruh mana, kok tega ngajak anak melakukan itu” tuturnya.

Sementara ada fakta lain yang terungkap dari pengakuan keluarga Puji. Ternyata Puji adalah seorang anak dari pengusaha jamu yang cukup tenar. Risono yang merupakan perwakilan keluarga mengaku alau pernikahan Dita dan Puji sebenarnya tidak direstui. Lantaran kelakuan Dita yang sangat tertutup. Tapi pada akhirnya mereka pun menikah dan diurus oleh keluarga angkatnya di Banyuwangi.

Puji setelah menikah disebut mengalami perubahan perilaku. Ia jadi mengikuti semua sifat dan kebiasaan suaminya bahkan keluarga angkatnya di Banyuwangi yang merestui mereka pun mulai jarang ditemui ataupun sekedar berkomunikasi. Meski begitu pihak keluarga tetap memperhatikan kebutuhan Puji dan keluarganya, bahkan keluarga kandung puji sempat memberikan rumah seharga 600jt dan mobil sebanyak dua kali. Tapi semuanya dijual oleh Dita, entah karena alasan apa. Meski begitu keluarga Puji kembali membelikan mobil yang ironinya justru digunakan untuk meledakkan diri.

Pengakuan Teman SMA Dita

Kalau keluarga Dita dan Puji kaget, seorang pria bernama Ahmad Faiz Zainuddin yang mengaku peernah mengenal Dita sewaktu SMA malah sebaliknya. Ia mengaku tidak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Dita karena dulu ia pun mengikuti pengajian yang mana Dita sebagai seniornya pun jadi pengkader rois di sekolahnya.

Menurut Faiz yang dulu di SMA 5 Surabaya adalah junior Dita, Dita itu orangnya sangat baik. Yang saking baiknya dulu lalat saja gak bakal dibunuh. Namun menurut Faiz seniornya tersebut ternyata berevolusi.

Semenjak SMA hingga kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya, Faiz mengaku mengikuti berbagai versi pemikiran dan aktivis Islam “dari yang paling radikal sampai liberal, dari Sunni, Sufi, Wahabi, Syiah, hingga Negara Islam Indonesia.Dan dari semua versi tadi, yang paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya, almarhum Dita.”

“Saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak ‘jihad’ dia, karena benih-benih ekstremisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu” kata Faiz.

Berikut selengkapnya pengakuan Faiz dari akun Facebooknya:

“Dari Islam Muram dan Seram, Menuju Islam Cinta nan Ramah

Dita Soepriarto adalah Kakak kelas saya di SMA 5 Surabaya Lulusan ‘91

Dia bersama-sama istri dan 4 orang anaknya berbagi tugas meledakkan diri di 3 gereja di surabaya.

Keluarga yg nampak baik2 dan normal seperti keluarga muslim yg lain, seperti juga keluarga saya dan anda ini ternyata dibenaknya telah tertanam paham radikal ekstrim.

Dan akhirnya kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar2 terjadi saat ini.

Saat saya SMA dulu, saya suka belajar dari satu pengajian ke pengajian, mencoba menyelami pemikiran dan suasana batin dari satu kelompok aktivis islam ke kelompok aktivis islam yg lain.

Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian “Cinta dan Tauhid” Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun. Yg lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya.

Diantaranya ada juga pengajian yg isinya menyemai benih2 ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang2an. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi islam garis keras.

Pernah di satu pengajian saat saya kuliah di UNAIR, saya harus ditutup matanya untuk menuju lokasi.

Sesampai di sana ternyata peserta pengajian di-brainwash tentang pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan unt menegakkan ini kita perlu dana besar.

Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari orang tua kita unt disetor ke mereka.

Bahkan ketua Rohis saya di buku Agendanya menyebusi dt profeirinya bukan pelajar SMA, tapi Mujahid.
Karena memang saat itu majalah Sabili sangat laris di sekolah kami.

Isinya banyak menampilkan secara Vulgar pembantaian etnis muslim Bosnia oleh Serbia.

Dan ini dijadikan pembakar semangat anak2 muda jaman saya waktu itu untuk menjadi “mujahid2 pembela islam”, beberapa akhirnya berangkat beneran ke medan perang.

Dari pengalaman menjelajah berbagai versi pemikiran dan aktivis islam dari yg paling radikal sampai liberal itu, dari sunni, sufi, wahabi, syiah, NII, dll itu, saya menyadari walaupun Islam ini mestinya satu, tapi ada banyak versi cara orang memahaminya, sehingga melahirkan banyak versi ekspresi keislaman dan pola tindakan.

Dan dari semua versi tadi, yg paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya mendiang Dita Supriyanto yg jadi ketua Anshorut Daulah cabang Surabaya ini. Saya sedih sekali akhirnya ini benar2 terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih2 ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu.

Dia mengingatkan saya pada kakak kelas lain, ketua rohis SMA 5 Surabaya waktu itu, yg menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

Waktu itu sepertinya pihak sekolah tidak menganggap terlalu serius. Karena memang belum ada bom2 teroris seperti sekarang. semua sekedar “gerakan pemikiran”. Memang dia dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) unt diajak diskusi, tapi kalau sebuah ideologi sudah tertancap kuat, seribu nasehat ndak akan masuk ke hati. Dan Akhirnya pihak sekolah menyerah, toh dia tidak bertindak anarkis, bahkan terkenal cerdas, lemah lembut dan baik hati.

Akhirnya Ketua rohis saya ini tiap upacara bendera i’tikaf di mushola sekolah. Btw kadang saya kalau lagi males upacara, ikut menemani dia di mushola dan ikut mendegarkan siraman rohaninya. Dan yg seperti ketua rohis saya ini tidak hanya di SMA 5, tapi yg saya tahu ada di hampir semua SMA dan kampus di surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.

Yg ingin saya katakan, Terorisme dan budaya kekerasan yg kita alami saat ini adalah panen raya dari benih2 ekstrimisme-radikalisme yg telah ditanam sejak 30-an tahun yg lalu di sekolah2 dan kampus2. Saya tidak tahu kondisi sekolah dan kampus saat ini, tapi itulah yg saya rasakan jaman saya SMA dan kuliah dulu.

Mohon jangan salah paham, main stream-nya pergerakan islam di sekolah dan kampus ini tidak se-ekstrim kakak kelas saya tersebut. Tapi ada cukup banyak yg sifatnya sembunyi2 dimana saya waktu itu ikut merasakan ngaji bersama mereka.

Serangkaian bom di tanah kelahiran saya dng tempat2 yg sangat akrab di telinga dengan segala kenangan masa kecil, plus pelaku utama yg terasa begitu dekat dengan memori masa2 SMA-Kuliah dulu ini membuat saya tersentak bahwa Ekstrimisme, Radikalisme, bahkan Terorisme ini sudah menjadi “Clear and Present Danger”. Ini tidak lagi sebuah film di bioskop atau berita koran yg terjadi nun jauh di negeri seberang. Ini sudah terjadi disini dan saat ini disekitar kita.

Maka kita harus menetralisir kegilaan ini sampai ke akar2nya. Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan (denial) bahwa ini cuman rekayasa, pelakunya ndak paham islam, ini bukan bagian dari ajaran islam, ini pasti cuman adu domba, dll.

Nyatanya pelakunya masih sholat subuh berjamaah di mushola, lalu satu keluarga berpelukan sebelum mereka menyebar ke 3 gereja unt meledakkan diri.

Nyatanya memang ada saudara2 kita yg memahami islam versi garis keras yg hobinya mengutip mentah2 ayat2 perang dan melupakan substansi “cinta dan kasih sayang” sebagai inti ajaran Islam.

Nyatanya memang benih2 radikalisme, ekstrimisme ini telah ditabur 30 tahun terakhir di pikiran anak2 muda kita, di sekolah2 terbaik dan dikampus2 top di Indonesia. Dan kalau akhirnya mewujud menjadi tindakan nyata terorisme, mestinya tidak mengagetkan kita.

Kalau kita masih saja melakukan penyangkalan, maka kita ndak akan pernah berbenah diri. Tapi kalau kita insyaf bersama, Kalau kita dengan gentle mengakui – bahwa IYA memang kita sedang sakit, bahwa memang ada banyak diantara kita, dan saudara2 kita yg memahami islam versi garis keras, yg merasa bahwa islam harus diperjuangkan dengan kekerasan – maka kita bisa mulai mengambil langkah2 solutif.

Dan langkah2 solutif nyata yg bisa kita lakukan diantaranya adalah:

  1. Mulai menetralisir alias melunakkan paham islam garis keras dan mulai menyebar luaskan paham islam moderat (washothiyah).
  2. SMA2 dan Kampus2 harus disterilkan dari gerakn2 bawah tanah islam garis keras, diganti dengan kemeriahan dan kegembiraan aktivitas islam yg menebarkan “cinta dan welas asih” pada sesama manusia.
  3. Sosial media harus dipenuhi kampanye “islam yg ramah dan penuh kasih sayang”. Bukan islam yg keras, penuh umpatan, dan kata2 kasar, apalagi hoax dan berdarah2.
  4. Pertarungan politik mohon jangan lagi menggunakan isu SARA sebagai komoditas rebutan kekuasaan. Apalagi disertai kampanye hitam saling menghujat yg membuat bahkan setelah selesai Pilkada/Pilpres-nya masyarakat jadi terbelah saling bermusuhan.
  5. Mawas diri dan sama2 menahan diri dalam menyikapi perbedaan2 dalam penafsiran Islam. Islamnya satu dan sumbernya sama, tapi nyatanya cara kita memahaminya bisa macem2. Dan ini fenomena psikologi yg wajar. Ayo tebarkan sikap saling memahami dan berempati, bukannnya saling curiga dan menyalahkan. Islam harus dipulihkan reputasinya dari wajah muram penuh kekerasan menjadi wajah ramah penuh Cinta pada sesama manusia.

Benar kata Muhammad Abduh, cendekiawan muslim abad 20, “Al-islamu Mahjubun bil muslimin”, Keindahan Islam ini terhijab/tertutupi oleh akhlak buruk sebagian umat islam sendiri”. Jadi mari kita yg akan bersama2 memulihkan wajah Indah Islam.

Terakhir, mari kita dengar seruan seorang remaja islam peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai:

“Peluru hanya bisa menewaskan teroris, tapi hanya PENDIDIKAN-lah yg bisa melenyapkan paham terorisme (sampai akar2nya: radikalisme, ekstrimisme)”

Stay Save.. Keep Optimism.. Spread Love & Compassion..

And for my beloved Christian brothers & sisters.. my deep condolence for all of you.. from the bottom of my heart, I am really sorry..

Love & Peace for all of us..

Saya yg sedang berduka,

Ahmad Faiz Zainuddin
Alumni SMA 5 Surabaya Lulusan 1995,” tulisnya.

Jenazah Ditolak Warga

Saat merencanakan Dita mungkin merasa benar dan apa yang dilakukannya itu akan memberikannya sebuah amalan dan autopilot masuk surga. Tapi faktanya . . . tidak ada yang spesial dengan kematiannya, bahkan nyatanya jenazahnya saja ditolak warga.

Seperti dilansir dari detik, warga sekitar TPU Tembok Gede menolak jenazah mereka meski sudah diupayakan oleh pemerintah setempat.

“Awalnya kami berusaha berkomunikasi, tetapi warga tetap menolak dan langsung menutup kembali liang yang sudah digali dengan alat seadanya. Tak lama kemudian warga lainnya, belasan orang, membawa peralatan dan membantu menutup lubang itu” ujar Camat Sawahan Muhammad Yunus.

Ketua LKMK Putat Jaya Haryono, juga mengatakan pihaknya bersama warga sudah sepakat tidak akan menerima jenazah pelaku pengeboman.

“Mereka sudah mengakibatkan salah satu warga kami meninggal dan membuat luka warga Surabaya khususnya. Kami menolak” tegas Jaya.

Well, kita sejak dulu sudah hidup berdampingan dengan segala perbedaan. Haruskah itu dirusak oleh keyakinan sesat oleh kelompok dan oknum tertentu? mari kita jaga perdamaian karena kita adalah INDONESIA!

 

Sumber:

https://news.detik.com/berita/d-4027966/jasad-teroris-ditolak-warga-diabaikan-keluarga

https://news.detik.com/berita/d-4019977/bom-gereja-surabaya-keluarga-dita-syok

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44124947

https://regional.kompas.com/read/2018/05/14/16181191/keluarga-sempat-tak-restui-pernikahan-pasangan-pelaku-bom-surabaya

http://www.tribunnews.com/nasional/2018/05/14/7-fakta-keluarga-bomber-3-gereja-di-surabaya-pengusaha-minyak-hingga-begini-motifnya

https://news.detik.com/berita/d-4024291/pertemuan-minggu-dan-strategi-bomber-surabaya-hindari-intel

https://news.detik.com/berita/4021048/balada-anak-bomber-surabaya-tak-disekolahkan-diajak-bunuh-diri

http://belitung.tribunnews.com/2018/05/14/beredar-di-fb-pengakuan-adik-kelas-ungkap-perilaku-dita-supriyanto-semasa-sma-isinya-menggetarkan

* * * * *
Buku Formula Cinta

LEAVE A REPLY