Coital Cephalgia, Sakit Kepala Karena Berhubungan Seks

Anda tiba-tiba diserang sakit kepala saat harus melakukan hubungan seks? Mungkin saja Anda menderita coital cephalgia.

Coital Cephalgia adalah serangan sakit kepala yang terjadi di dasar tengkorak sebelum orgasme selama melakukan aktivitas seksual (termasuk masturbasi). Dikenal juga dengan istilah orgasmic cephalgia, orgasmic headache, sex-related headached, sexual headaches atau primary headache with sexual activity (HSA)

Coital cephalgia umumnya lebih sering diderita oleh kalangan pria, terutama di usia aktif bercinta 20-25 tahun dan usia mendekati paruh baya sekitar 40 tahunan.

Gangguan ini bisa terjadi pada beberapa pria yang memiliki faktor-faktor risiko tinggi seperti berat badan berlebih atau obesitas. Pria dengan tekanan darah tinggi atau hipertensi, memiliki riwayat migrain, sering melakukan hubungan seksual dengan posisi berlutut, penggunaan amfetamin, dan pria yang sedang menjalani terapi disfungsi ereksi.

Gara-gara rasa tak nyaman ini, banyak pria terpaksa menolak untuk melakukan hubungan seks. Bahkan, rasa sakit ini memberikan trauma bagi sebagian pria.

Pria yang mengalami Coital Cephalgia seringkali menunjukkan rasa sakit kepala berkaitan dengan aitivitas seksual yang dilakukannya. Rasa sakit seringkali muncul dari dasar tengkorak. Kemudian menjalar ke bagian depan. Sering kali rasa sakit ini timbul secara tiba-tiba. Atau bisa juga secara perlahan-lahan, kemudian memburuk selama aktivitas seksual atau masturbasi. Rasa sakit muncul hampir berbarengan dengan orgasme. Banyak hal yang memicu terjadinya sakit kepala saat berhubungan seks. Seks dapat meningkatkan tekanan darah, sehingga menimbulkan tekanan di kepala. Selain itu, seks juga menyebabkan pengetatan dan ketegangan otot. Kombinasi keduanya diduga menyebabkan coital cephalgia.

Coital Cephalgia diklasifikasikan ke dalam 3 kategori, yaitu early Coital Cephalgia, Orgasmic Coital Cephalgia, dan Late Coital Cephalgia. Ketiganya dibedakan berdasarkan lamanya serangan.

Early Coital Cephalgia merupakan jenis Coital Cephalgia yang biasanya berlangsung singkat dengan intensitas dari sedang sampai berat. Jenis ini sering kali ditandai dengan gejala pengencangan dan ketegangan otot. Selain itu juga sering nyeri tumpul. Sering terjadi bilateral di bagian oksipital dancervical.

Jenis yang pertama ini diduga memiliki keterkaitan dengan kontraksi otot di daerah sekitar kepala.

Kedua, orgasmic coital cephalgia. Jenis ini tergolong sakit kepala yang berat. Bisa terjadi onset mendadak dan berlangsung kurang lebih 15-20 menit. Rasa sakit seringkali dirasakan oleh penderita di area oksipital atau belakang mata. Bahkan dalam beberapa kasus, jenis yang kedua ini seringkali dan umum terjadi saat orgasme. Atau dalam bentuk yang lebih umum dan terjadi pada titik orgasme. Jenis ini bisa diakali supaya tidak muncul dengan cara menunda orgasme.

Orgasmic coital cephalgia merupakan jenis yang paling umum terjadi dari kasus sakit kepala terkait dengan aktivitas seksual. Penyebabnya diduga berkaitan dengan tekanan darah. Tetapi bila sakit kepala terus berlanjut ketika tekanan darah sudah kembali normal, kemungkinan besar ada faktor-faktor lain seperti menderita migrain.

Ketiga, Late coital cephalgia. Serangan sakit kepala yang datang setelah berdiri, setelah melakukan hubungan seksual dengan onset yang lebih lama. Sakit kepala jenis ini memiliki hubungan dengan cairan kepala.

Namun, tak hanya pria. Kaum wanita juga bisa mengalami gangguan ini. “Coital Cephalgia adalah bentuk yang tidak biasa dari sakit kepala yang dapat menyerang baik itu pria maupun wanita. Namun, secara statistik lebih dominan menyerang pria dibandingkan wanita dengan proporsi perbandingan 3:1,” ujar dr Anton Darsono Wongso SpAnd, spesialis andrologi dari Rumah Sakit Awal Bros, Tangerang. Rasa sakit yang parah biasanya diikuti gejala lain, seperti kesemutan, lemah, mati rasa bahkan penglihatan menjadi kabur.

Berbahayakah Coital Cephalgia? Pada banyak kasus, gangguan ini memang belum terekam sebagai gangguan medis yang cukup membahayakan. Namun, dalam beberapa kasus, Coital Cephalgia menjadi indikasi adanya gangguan kesehatan lain yang sangat berbahaya.

Terkait dengan aktivitas seksual, gangguan ini, kata Anton, juga berpotensi menyebabkan pria mengalami disfungsi ereksi. “Coital Cephalgia saat melakukan hubungan seks bisa meningkatkan kecemasan dan perasaan tidak tenang yang nantinya dapat berpotensi menjadi masalah terjadinya disfungsi ereksi pada pasangan pria. Selain itu, penderita disfungsi ereksi yang menjalani pengobatan dapat juga mengalami Coital Cephalgia saat hubungan seks,” katanya.

Pengobatan terhadap gangguan ini lebih ditujukan kepada faktor penyebab. “Seperti hipertensi, migrain, meningitis, perdarahan dalam tulang tengkorak, tumor, stroke dan gangguan endokrin yang terjadi,” katanya.

Selain itu, untuk membantu mengurangi rasa sakit kepala dapat diberikan pengobatan seperti sakit kepala lainnya, melakukan kompres dingin dan berbaring di tempat yang tenang dan gelap. Menjalani terapi relaksasi walaupun kurang didukung oleh evidance base, dapat membantu mengatasi coital cephalgia.

Avatar
S. Gelmani Rabiah
Seorang wanita yang senang membaca, traveling, main game dan bela diri. Sangat suka dengan sesuatu yang rumit dan menantang.

More from author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel terkait

Advertisment

Artikel terbaru

4 Pertanyaan Besar Terhadap Asmara Anda

Dalam sesuatu hubungan yang Anda jalani dengan kekasih, Anda tentunya sudah mengalami berbagai bentuk ujian dan cobaan. Cobaan ataupun ujian sendiri kadang kala bisa...

5 Sikap Terbaik Saat Bertemu Sang Mantan

Hubungan asmara yang kandas, jangan sampai membuat Anda menjadi sempit berfikir. Mengambil hikmah dan menjadi pribadi yang tidak pendendam dapat membuat Anda bisa menikmati...

Beberapa Momen Memalukan Saat ‘First Date’

Suatu hubungan asmara tentunya terlebih dahulu diawali dengan tahap pendekatan. Hal ini tentunya bertujuan agar masing-masing bisa lebih saling mengenal karakter dan kepribadian satu...