Bagi para penggila bola, mungkin ini sudah bukan lagi sebuah kabar baru. Tapi saya sempat heran ketika mengetahui betapa banyaknya orang di sekitar saya yang tidak percaya bahwa tim sepakbola negara tercinta kita ini adalah tim Asia pertama yang tembus piala dunia. Ya, melihat performa timnas sejak zaman Adjie Santoso sampai Andiek Vermansyah, saya tidak menyalahkan juga kalau orang berpikir Indonesia mustahil masuk piala dunia. Berhubung karena sekarang lagi demam piala dunia, maka ada baiknya kalau sejarah 76 tahun yang silam kita kuak kembali.

Ya, Indonesia tepatnya tembus ke piala dunia pada tahun 1938 di Perancis. Saat itu, kita menyandang status sebagai tim sepakbola Asia pertama yang lolos kualifikasi Fifa World Cup. Kamu mungkin bilang “Bukannya saat itu kita masih dijajah Belanda?”

Kata “menjajah” sebenarnya adalah konotasi yang buruk. Saya pribadi merasa lebih tepat jika menggunakan kata “memimpin”. Belanda pada saat itu adalah sebuah pemerintahan yang diakui di wilayah Indonesia. Dan layaknya sebuah pemerintahan yang baik, Belanda membangun dan mendidik Indonesia (kamu bisa saja tidak setuju, tapi sisa-sisa pembangunan Belanda plus sistem hukum yang kita pakai sekarang adalah bukti kepemimpinan mereka dulu). Nah, pada saat itu, timnas Indonesia kita juga dinaungi langsung oleh Belanda. Benderanya saja masih bendera Belanda saat itu. Timnas kita kala itu terdaftar di piala dunia dengan nama Dutch East Indies.

Lalu sejauh apa timnas kita melaju pada piala dunia 1938 di Perancis itu? Timnas kita kalah dari tim Hungaria pada babak Knock Out. 

Kamu pasti berpikir “Wah hebat ya, tim kita bisa tembus babak penyisihan grup!”

Jangan salah. Saat itu piala dunia tidak diawali dengan penyisihan grup tapi langsung ke babak Knock Out. Timnas kita kalah pada pertandingan pertamanya di piala dunia oleh Hungaria dengan skor telak 0-6, dan itu sekaligus menjadi pertandingan terkahir bangsa kita di ajang piala dunia sampai hari ini. Hungaria sendiri saat itu adalah tim yang kuat dan berhasil sampai ke final walaupun akhirnya kalah dari Italia.

“Sial juga timnas kita harus ketemu dengan tim finalis di pertandingan pertama.” Yah, pada piala dunia itu bisa jadi timnas kita memang sial. Tapi apa benar kita sial terus selama 76 tahun sampai sekarang? Itu bukan sial namanya, tapi sialan!

Biar lebih jelas, di bawah ini bagan babak Knock Out piala dunia tahun 1938 yang saya caplok dari Wikipedia.

Bagan Babak Knock Out Piala Dunia1938 di Perancis

First round Quarter-finals Semi-finals Final
5 June – Marseille
  Italy (a.e.t.)  2
12 June – Paris
  Norway  1
  Italy  3
5 June – Paris
  France  1
  France  3
16 June – Marseille
  Belgium  1
  Italy  2
5 June – Strasbourg
  Brazil  1
  Brazil (a.e.t.)  6
12 June – Bordeaux
(replayed 14 June)
  Poland  5
  Brazil  1 (2)
5 June – Le Havre
  Czechoslovakia  1 (1)
  Czechoslovakia(a.e.t.)  3
19 June – Paris
  Netherlands  0
  Italy  4
5 June – Reims
  Hungary  2
  Hungary  6
12 June – Lille
  Dutch East Indies  0
  Hungary  2
4 June – Paris
(replayed 9 June)
   Switzerland  0
   Switzerland  1 (4)
16 June – Paris
  Germany  1 (2)
  Hungary  5
5 June – Lyon
  Sweden  1 Third place
  Sweden  w/o
12 June – Antibes 19 June – Bordeaux
  Austria[5]  —
  Sweden  8   Brazil  4
5 June – Toulouse
(replayed 9 June)
  Cuba  0   Sweden  2
  Cuba  3 (2)

Ada beberapa detail lain yang sampai sekarang ini masih tidak ditemukan, misalnya susunan pemain timnas kita di piala dunia 1938 tersebut. Saya rasa itupun tidak perlu karena kita tidak lagi bisa memberi mereka selamat satu per satu.

Kita memang sudah sepatutnya berbangga, mau itu Indonesia sebagai tim Asia pertama yang masuk piala dunia ataupun tim Asia terakhir yang masuk piala dunia sebelum kiamat. Tapi jelas saja kita patut berbangga karena Indonesia SETIDAKNYA pernah tercatat juga dalam sejarah piala dunia, yah terlepas dari kenyataan bahwa saat itu namanya belum Indonesia.

Ini membuat saya berpikir, apakah mesti PSSI kita dinaungi langsung lagi oleh Belanda lagi supaya bisa lolos piala dunia?

 

* * * * *
Buku Formula Cinta

1 COMMENT

LEAVE A REPLY