" Terbang menuju dekade pertama,
tetap kuat tetap menjulang"

" Terbang menuju dekade pertama, tetap kuat tetap menjulang"

Faktor Umum Sehingga Orang Tua Tidak Memberikan Restunya

Jalinan hubungan asmara tentu akan lebih menyenangkan ketika mendapatkan restu dari orang tua pasangan. Namun, apa jadinya jika dalam suatu hubungan asmara yang terjalin bersama kekasih tidak mendapatkan restu dari orang tua. Ketika Anda berada pada kondisi ini, tentu Andapun akan merasa terbebani dengan hubungan yang Anda jalin dengan si dia. Selain itu, Anda pun akan cenderung menjadi ragu dengan masa depan hubungan Anda dengan sang kekasih. Memilih back street ataupun menetang apa yang telah menjadi keputusan orang tua merupakan dua hal yang akan menjadi kemunkinan dalam menyikapi keputusan orang tua Anda.

Menjadikan back street sebagai solusi ataupun dengan menentang keputusan orang tua tentu justru hanya menjauhkan Anda bersama sang kekasih dari restu mereka. Oleh karena itu, sebaiknya Anda dapat menunjukkan sikap yang bijaksana sehingga Anda pun dapat memahami apa yang menjadi keputusan orang tua Anda yang tidak memberikan restu terhadap jalinan hubungan asmara Anda bersama kekasih. Orang tua tentunya mempunyai alasan sehingga mereka tidak memberikan restunya pada hubungan Anda tersebut. Adapun yang menjadi faktor umum oleh sebagian besar orang tua yang kemudian tidak merestui hubungan asmara yang terjalin antara sang anak dengan kekasih. Kasandra Putranto yang merupakan salah seorang Psikolog Klinis dan Forensik Lulusan Universitas Indonesia ini pun memberikan tanggapan terhadap hal ini, dimana ketika orang tua tidak merestui hubungan asmara anaknya tentu dikarenakan terdapat alasan yang kemudia membuat merek tidak memberika restu terhadap jalinan asmara antara sang anak besama kekasihnya. Berikut faktor umum yang dimaksud antara lain :

1. Terlalu Dini

Usia yang masih relatif muda cenderung membuat sebagian orang tua merasa khawatir akan hubungan asmara yang terjalin oleh sang anak. Mereka memliki kekhawatiran oleh karena sang anak sebenarnya masih sangat dini mengenal lebih jauh tentang kehidupan asmaranya, sehingga mereka pun khawatir akan segala hal-hal buruk yang dimungkinkan terjadi. Usia sangat dini tentunya masih akan sangat minim dengan berbagai pemahaman mereka, termasuk dalam hubungan asmara. Kasandra pun mengutarakan bahwa, “Kadang-kadang kenapa orangtua tidak setuju karena waktunya tak tepat. Mungkin orangtuanya mewanti-wanti jangan pacaran dulu, tapi si anak dalam lingkungan pertemanan sekolahnya dan lain sebagainya sudah pacaran. SD mau pacaran, SMP mau pacaran. SMP (sekitar umur) 12-15 itu belum waktu pacaran, itu waktu untuk bergaul dengan banyak orang, mencoba berprestasi dan sebagainya,” ujar Pendiri Biro Layanan Psikologi Kasandra and Associates ini.

2. Kualitas Kehidupan Anak yang Masih Diragukan

Mungkin usia 16 hingga 18 tahun merupakan golongan usia yang sudah layak bagi mereka untuk menjalin hubungan asmara bagi sebagian besar orang tua yang memiliki pemahaman demokratis. Namun, pada kondisi ini meskipun orang tua memiliki pemahaman demokratis, tentunya mereka akan masih saja akan merasa khawatir jika nantinya mereka memberikan restu terhadap hubungan asmara yang dijalin oleh anaknya bersama sang kekasih. Mereka pun tidak lain lebih menimbang akan kulitas kepribadian sang anak yang masih belum mampu untuk mengurus kehidupannya secara mandiri. “Dia (anak) mempunyai kualitas yang belum siap. Yang namanya remaja kan dia sekolah, kalau kerjaannya (di sekolah) nggak beres terus pacaran, terang aja orangtuanya nggak merestui. Sama kalau menikah, dia belum bisa mandiri tapi mau menikah,” tandasnya.

3. Standar Pasangan Di Mata Orang Tua

Setiap orang tua tentunya memiliki kehendak agar nantinya sang anak dapat bahagia dengan mendapatkan pasangan yang baik untuknya. Oleh karena itu, menjadi hal yang wajar jika orang tua menjadi lebih selektif dalam menentukan dan menetapkan standar pasangan yang nantinya menjadi pasangan hidup dari sang anak. Kepribadian yang baik, perilaku, penampilan, sosial ekonomi, sopan dan santu merupakan beberapa hal yang seringkali menjadi perhatian orang tua terhadap pasangan sang anak. Jika pada hal-hal demikian tidak bersesuaian dimata orang tua, tentu mereka pun tidak akan memberikan restu pada sang anak terhadap jalinan asmaranya bersama kekasih. “Kualitas dari pasangan mungkin pertama IQ. Coba bayangkan kalau anak kita pintar tapi yang ini (pasangan) IQ-nya nggak nyambung, itu nanti akan jadi perkara. Nanti kalau ada perbedaan yang gap, cowoknya nggak sekolah atau (hanya) SMA, sementara pasangannya S2, itu berat. Itu faktor-faktor yang seringkali anak nggak lihat. Orangtua melihat itu sebagai potensi risiko yang akan mempersulit,” urai Psikolog Lulusan Universitas Indonesia itu.

@RitaManggulu
@RitaManggulu
Cewek sederhana dengan 3 hobi: menulis, masak dan main bareng Lil' Tomi. Semua tulisan ini adalah bukti bahwa keinginan tulus berbagi tidak dapat dipatahkan oleh keterbatasan jarak maupun waktu. XoXo

More from author

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel terkait

Advertismentspot_img

Artikel terbaru

Cara Pikir yang Baik saat Anda Ditolak

Apakah Anda sudah pernah ngehit? Apa? Anda belum tahu apa itu ngehit? Where have you been! Ngehit adalah memulai pembicaraan dengan wanita atau pria...

Sulitnya Penindakan Terhadap Kekerasan Psikis dan Seksual Pada Masa Pacaran

Terjadinya tindak kekerasan terjadi tidak hanya pada masa pernikahan antara pasangan suami bersama istrinya, melainkan pada masa pacaran pun saat ini dikenal sebagai masa...

4 Cara Agar Anda Tidak Kembali Kepelukan Mantan Kekasihnya

Disaat Anda mengambil keputusan untuk menjalin hubungan asmara dengan seorang pria, maka Anda pun tentunya belum tentu dapat membina hubungan asmaranya dengan baik dan...