Ada pepatah yang mengatakan “kebiasaan kita sehari-hari tanpa disadari dapat menimbulkan masalah tertentu pada tubuh”. Hal tersebut faktanya memang bukan sekedar isapan jempol belaka, karena ada banyak kebiasaan buruk yang memang dapat memicu penyakit.

Tapi selama ini ada satu kebiasaan yang masih sangat jarang diketahui kalau ternyata kebiasaan itu dapat memicu masalah pada tubuh yaitu minum dari botol plastik atau kaleng.

Penggunaan Botol Plastik atau Kaleng Memicu Hipertensi oleh SegiEmpatDiakui atau tidak, penggunaan botol plastik dan kaleng adalah salah satu kebiasaan banyak orang. Umumnya dipakai sebagai wadah minuman yang mudah dibawa kemana-mana, entah itu pada minuman berenergi yang dipasarkan bebas atau sebagai bekal dari rumah. Ada kan yang dari rumah sudah sediain air minum yang diisi pada botol plastik?

Nah, ternyata hasil penelitian terbaru mengungkap kalau penggunaan botol plastik atau kaleng memincu hipertensi atau tekanan darah tinggi. Benarkah? Apa kaitannya antara kaleng dan botol plastik dengan tekanan darah?

Dari hasil penelitian pada kaleng dan botol plastik itu mengandung zat kimia bernapa BPA atau bisphenol A. Menurut beberapa pakar, kimia BPA yang banyak terdapat pada botol plastik ataupun kaleng minuman dan makanan punya kaitan terhadap tekanan darah bahkan penyakit jantung sampai kanker.

Hal tersebut diperkuat dengan data yang ditemukan oleh pakar peneliti baru-baru ini, dalam penelitiannya terhadap puluhan relawan yang diminta mengkonsumsi susu kedelai dari kaleng dan botol plastik ditemukan kadar BPA yang tinggi dalam urin mereka. Saat ditest, tekanan darah mereka pun meningkat drastis hanya selang 2 jam setelah minum susu kedelai. Yang mana sebenarnya susu kedelai merupakan jenis susu yang sebenarnya cukup netral dan tidak berdampak pada peningkatan tekanan darah.

Selang beberapa hari kemudian, para relawan kembali diminta untuk meminum susu kedelai dari botol kaca. Hasilnya, pada urin mereka tidak ditemukan kadar BPA yang berbahaya sementara tekanan darah mereka tetap stabil. Karena kadar BPA pada urin yang tidak mengalami lonjakan drastic.

Dari dua perbedaan tersebut maka peneliti pun menyimpulkan kalau senyawa BPA yang masuk ke dalam tubuh dengan jumlah besar dapat memicu peningkatakan tekanan darah. Hal ini semakin berbahaya jika itu terjadi setiap harinya, karena seperti kita tahu hipertensi dapat memicu gangguan kardiovaskular atau penyakit jantung.

Kimia BPA dikenal sebagai senyawa yang dapat menghambat reseptor estrogen tertentu yang mana estrogen tersebut diketahui berfungsi untuk memperbaiki pembuluh darah dan mengontrol tekanan darah. Kira-kira apa yang terjadi kalau estrogen tersebut terblokir oleh senyawa BPA? Tentu dapat memicu masalah.

Hal tersebutlah yang coba dibuktikan oleh para pakar, sayangnya sejak tahun 1960-an sampai sekarang kimia BPA sudah digunakan dalam pembuatan wadah makanan dan minuman serta produk-produk lainnya. Seperti cangkir, lenasa kontak bahkan sampai botol minuman bayi. Tapi setelah melihat bahayanya, saya yakin Anda mulai berpikir untuk menggunakan botol plastik ataupun kaleng bukan?

LEAVE A REPLY