Kita semua tahu kalau berabad-abad bangsa ini “dikuras habis” oleh orang-orang dari Negara luar. Dimana mereka tidak hanya merebut rempah-rempah yang begitu kaya di Indonesia tapi juga memperlakukan masyarakat kita semena-mena. Ditengah penindasan, teror dan kekerasan muncul-lah mereka-mereka yang kita beri gelar pahlawan Nasional. Mereka itulah orang-orang yang memperjuangkan hak hidup yang kini kita rasakan dengan segala kenyamanannya.

Kisah Cinta Pahlawan Indonesia oleh SegiEmpatKarena itu orang-orang yang sudah membela tanah air tercinta selama beratus-ratus tahun dijajah Negara lain, sudah sepantasnya mendapat penghormatan bagi setiap masyarakat Indonesia. Terlepas dari apa Agamanya dan apa sukunya. Karena tentu saja mereka inilah yang sudah memperlihatkan betapa cintanya terhadap Indonesia sampai bukan hanya jiwanya mereka rela korbankan tapi juga segala pikiran dan hatinya.

Ya, para pahlawan nasional Indonesia tidak hanya berjuang dengan mempertaruhkan nyawa demi mengusir para penjajah. Tapi mereka juga harus mengorbankan kehidupannya yang penuh cinta.

Selama ini para pahlawan nasional dikisahkan dengan berbagai aksi heroik mereka dalam usahanya menghilangkan penjajahan yang melanda negeri tercinta berabad-abad lamanya. Namun tidak banyak yang tahu kalau dibalik perjuangannya, mereka juga terpaksa mengorbankan kisah cintanya dengan sang belahan jiwa.

Kisah Cut Nyak Dien yang Tegar Meski Kehilangan Suami

Kisah Cinta Pahlawan Indonesia oleh SegiEmpatLahir di Lampadang pada 1848, Cut Nyak Dien yang merupakan orang Aceh adalah salah satu pahlawan wanita yang sangat ditakuti pejajah. Dengan armada laut Kesultanan Aceh ia selalu berada di garis depan dalam setiap pertempuran melawan penjajah. Tapi sebagai manusia biasa, kehebatannya dan kegigihannya di medan tempur tetap saja takluk pada seorang pria. Bersama suaminya Cut Nyak Dien pun tidak berhenti dari perjuangannya mengusir penjajah. Namun keberaniannya diuji kala suaminya gugur di medan pertempuran.

Kisah Cinta Pahlawan Indonesia oleh SegiEmpatKepergian suaminya sempat membuat Cut Nyak Dien terhempas, beberapa lama ia “menghilang” dari medan perang. Namun Cut Nyak Dien membuktikan diri kalau cintanya pada bumi pertiwi lebih besar dari cintanya pada suami, begitu pula saat ia harus kembali kehilangan suami keduanya Teuku Umar. Teuku Umar meninggal dunia di Meulaboh karena ditembak penjajah. Anaknya Cut Gambang sempat menganis sejadi-jadinya, tapi Cut Nyak Dien menamparnya dan berkata “Sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid”.

Kesedihan Cut Nyak Dien yang harus kehilangan suami untuk kedua kalinya sama sekali tidak membuat cintanya luntur terhadap Indonesia demi sebuah kemerdekaan untuknya dan juga untuk masyarakat Indonesia.

Kisah Cinta Daan Mogot yang Dibawa Sampai Liang Lahat

Di masa peperangan, hanya satu yang dapat membedakan penjajah dengan para pahlawan yaitu pada siapa mereka berpihak. Tidak ada yang namanya warna kulit, kesukuan, etnis atau Agama. Mereka semua berjuang demi kemerdekaan Indonesia.

Kisah Cinta Pahlawan Indonesia oleh SegiEmpatSalah satu pahlawan nasional yang begitu gigih dalam membela kemerdekaan Indonesia adalah Elias Daniel Mogot atau yang lebih dikenal dengan nama Daan Mogot. Masa mudanya yang kalau remaja sekarang dihabiskan berhura-hura, Daan Mogot justru sudah berkutat dengan senjata. Bahkan di usia 17 tahun Daan Mogot sudah menjadi seorang Mayor dan Komandan Tentara Keamanan Rakyat.

Daan Mogot merupakan salah satu pejuang yang dikenal tanpa rasa takut, bahkan hatinya sama sekali tidak gentar saat harus berhadapan dengan ratusan senjata penjajah. Namun hatinya justru bergetar hebat saat melihat seorang gadis cantik berambut panjang bernama Hadjari Singgih. Berawal dari lawatannya ke Bali Daan Mogot jatuh hati pada Hadjari, hingga akhirnya mereka saling memadu kasih.

Namun percintaan mereka tidak dapat bertahan lama, dalam pertempuran di Lekong Daan berjuang sampai darah penghabisan dengan peluru yang sudah bersarang di dada dan kakinya, sang Komandan dengan berani mengambil senjata mesin dan menembakkannya kearah penjajah sampai akhirnya meninggal dunia dengan ratusan peluru yang bersarang ditubuhnya. Kepergian sang Komandan TKR menyimpan duka yang mendalam bagi semua orang termasuk Hadjari Singgih. Bahkan saat pemakaman Hadjari memotong rambut panjangnya yang begitu dikagumi Daan untuk dikuburkan dengan pujaan hatinya. Sejak itu Hadjari tidak pernah lagi memanjangkan rambutnya.

Kisah Cut Nyak Meutia yang Terus Berjuang Demi Wasiat Suami

Selain Cut Nyak Dien masih ada satu lagi pejuang wanita asal Aceh yaitu Cut Nyak Meutia. Bersama suaminya Teuku Cik Tunong atau yang juga dikenal dengan nama Teuku Cut Muhammad mereka berjuang di garis depan melawan penjajah.

Kisah Cinta Pahlawan Indonesia oleh SegiEmpatDua sejoli ini menjadi pasangan yang sangat ditakuti penjajah karena keduanya dikenal cerdik dan tidak mengenal kata menyerah. Bahkan disaat Teuku Cik Tunong ditangkap penjajah dan dihukum mati. Kisah cinta pahlawan Indonesia ini adalah salah satu kisah cinta yang penuh pengorbanan, darah dan air mata.

Saat Teuku Cik Tunong ditangkap dan dipenjara Cut Nyak Meutia datang mengunjungi suaminya untuk yang terakhir kali. Namun bukannya meminta Cut Meutia lari dan sembunyi, Teuku Cik Tunong justru meminta istrinya untuk melanjutkan perjuangan yang langsung disanggupi oleh istrinya. Sambil meneteskan air mata, di depan suami dan anaknya Cut Nyak Meutia berkata “Saya berjanji, saya akan mematuhi wasiatmu demi cintaku padamu, demi sayangku pada putera kita Raja Sabi dan demi keyakinanku akan meneruskan perjuangan melawan Belanda”.

Kisah Pierre Tandean yang Gagal Menikah dengan Pujaan Hati

Apa yang paling melekat dari peristiwa G30 S PKI? Pembantaian para Jenderal tentunya. Namun bagi orang-orang terdekat para Jenderal termasuk perwira Militer bernama Pierre Tandean mungkin bukan hanya kesedihan yang berkepanjangan tapi juga kisah perjuangan dan kisah cinta yang tragis.

Kisah Cinta Pahlawan Indonesia oleh SegiEmpatPierre Tandean adalah salah satu korban dari G30 S PKI 1965, ia yang merupakan ajudan Jenderal A.H. Nasution ikut terbunuh dalam penganiayaan yang mengerikan.

Semasa hidupnya Pierre adalah salah satu perwira yang tidak hanya dikenal gigih tapi juga jadi idola para wanita. Bahkan setiap kali sang Jenderal membawakan materi kuliah semua mata mahasiswa wanita hanya tertuju padanya. Pierre memang punya paras rupawan tapi hatinya hanya untuk pujaan hatinya Rukmini Chaimin. Sayangnya kisah cinta mereka tidak pernah sampai ke pelaminan.

Kisah Cinta Pahlawan Indonesia oleh SegiEmpatBerbulan-bulan menjalin hubungan bahkan Pierre yang menyampaikan surat pada kakaknya kalau ia sudah bertemu dengan jodohnya, justru berakhir dengan penuh air mata. Pierre diculik gerombolan yang mengepung rumah sang Jenderal karena ia dikira adalah Jenderal Nasution. Pierre dibawa ke Lubang Buaya dan disiksa sampai meninggal dunia. Mirisnya Pierre dan Rukmini sebenarnya sudah merencanakan pernikahan pada bulan November 1965, namun Pierre meninggal dunia pada 1 Oktober 1965.

Tidak semua orang bisa mengorbankan jiwa dan raganya demi hal yang ia cintai. Lantas apakah kita sendiri justru tidak bisa menghargai pengorbanan para pahlawan kita, yang berjuang demi Indonesia? Haruskah kita memicu konflik sesama kita sementara dulu ada orang yang rela berdarah-darah demi Indonesia?

LEAVE A REPLY